Can you be my new favourite feeling?
“Don’t waste the rest of your time here worrying about other people—unless it affects the common good. It will keep you from doing anything useful. You’ll be too preoccupied with what so-and-so is doing, and why, and what they’re saying, and what they’re thinking, and what they’re up to, and all the other things that throw you off and keep you from focusing on your own mind.”— Marcus Aurelius, Meditations (via books-n-quotes)
“Not everyone you like, likes you.”—
Kau tahu?
Kadangkala, ketika kamu ada di ujung masalah yang menyesakkan kepalamu, dan mau tidak mau kamu tak bisa menghindarinya; tutup matamu, baca bismillah, dan biarkan dirimu berjalan melaluinya mengikuti irama hati.
Ambil nafas, percaya kamu bisa melakukannya; dan tiba-tiba semuanya berakhir, bahkan tanpa kamu sadari.
“Every breath you’re breathing is a beautiful song.”— Loreen, We Got the Power (via music-and-quotes)
“Privasi itu mahal. Jadi simpan sedikit bicaramu untuk Tuhanmu. Pujian dari manusia hanya membuatmu haus dengan keindahan dunia.”—
“Di dalam kesulitan hidup itu ada kemanisan dalam berdoa.”—
Apabila kelak kamu melihatnya berdiri dengan berani ketika datang melamarmu, maka ketahuilah bahwa sesungguhnya dia sedang merasa takut. Ketika dia dengan mantap mengucap ikrar sesungguhnya dia sedang gugup. Seluruh rasa takut dan gentar yang pernah dia alami semasa hidupnya seolah dijumlah dan ditimpakan sekaligus kepadanya pada hari kamu resmi menjadi tanggung jawabnya.
Dia penakut, sungguh. Tidak pula penuh percaya diri. Kini tak jarang dia iri melihat kanan kiri, jengah melihat orang lain bergelimang materi. Semenjak dia berpikir untuk melanjutkan hidupnya bersamamu, dia mulai merasa takut terhadap banyak hal. Kebutuhan materimu, bahagia hidupmu, keselamatan akhiratmu, segala tentangmu yang nantinya akan dia perjuangkan habis-habisan. Bahagia dunia akhiratmu bersamanya, menjadi definisi baru dari kata hidup untuk dirinya.
Ketahuilah, dengan segala keterbatasannya itu, tak satu pun yang berhasil menariknya mundur. Membuatnya menjauh, berpaling darimu. Meskipun tidak dititipi berbagai kelebihan yang bisa dibanggakan, perihal merelakan dirimu, dia enggan. Semenjak mengenalmu, akrab dengan jiwa dan tutur katamu, dia tahu bahwa kamulah yang dia mau.
Dia bukan lelaki terbaik. Dia tidak akan dan memang tidak pernah bisa menjadi yang terbaik. Tidak ada sedikit pun frasa superlatif yang dapat berlaku pada sifat bawaannya. Dia memahami itu dengan baik. Tetapi, bukankah untuk menggenapi hidupmu dia tidak perlu menjadi yang terbaik? Menjadi seseorang yang muncul dari kerumunan, lalu bergegas kepadamu dengan predikat “yang paling” dari sesuatu. Dia tahu, bukan itu yang kamu mau.
Dia cukup menjelma apa yang kamu butuhkan. Bahu yang kamu butuhkan sebagai sandaran. Jemari yang kelak menghapus tiap tangisan, hingga jadi cakrawala tempat kamu menggantungkan impian. Dia cukup menjadi semuanya untukmu.
Semuanya,
Untukmu.Dan nanti kamu akan tahu,
untuk setiap momen yang kamu bagi dengannya dalam hidup, dia akan menjadi lelaki yang padanya kamu selalu merasa cukup.